Sunday, January 03, 2016

Entendu! Entendu!

JE viens d’Indonésie.[1] Saya berkata sesopan mungkin, mencoba kefasihan berbahasa Prancis.
Entah kenapa Ramon dan Georgia terkikik heran melihat saya berbicara. Apakah saya salah mengucapkan sesuatu?
Of course, Sir. I know you’re an Asian-boy. And what’s wrong with that?” Wanita Eropa itu menatap saya sengit. Dengan langkah yang membuat pekak telinga—karena wanita itu mengenakan stiletto—ia pergi.
Saya berpaling ke arah Ramon dan Georgia. ”Kalian benar-benar menjengkelkan!”
Ou, vous venez de très loin! Étudiant?[2] Ramon yang asli Prancis berkata demikian, berusaha mengolok saya.
”Sudahlah, Wil. Lebih baik kita segera ke stasiun. Lebih cepat lebih baik, bukan?” Georgia mencoba menengahkan.
Saya setuju. Tetapi perbuatan tadi tidak dapat saya terima. Bayangkan saja, dengan seenaknya Ramon bilang wanita Eropa yang cantik itu menyapanya dengan dalih ingin bertanya asal saya dari mana. Dan ketika saya berkata sesopan mungkin, ternyata wanita itu sama sekali tidak melakukan apa yang dibilang Ramon. 
Seketika saya terkagum-kagum melihat sekumpulan wanita yang rupanya sangat menakjubkan. Mereka tampak trendi. Mungkin mereka model, atau sekadar kalangan sosialita Paris saja?
Elles habitent près d’ici.”[3] Ramon mencoba memberitahu saya. Sudah saya duga, bukan? Orang-orang yang tinggal di dekat sini memang salah satu kumpulan sosialita Paris.
”Nggak penting ah ngeliatin mereka. Lihat deh, rata-rata bodinya mirip papan gilesan! Yuk!” Georgia yang sudah tinggal di Jakarta selama enam tahun memang fasih berbahasa Indonesia, bahkan ia fasih berbahasa Betawi. Sedangkan Ramon, pria Italia berpostur tinggi dan punya sifat kekanakan itu hanya tahu identitas Indonesia sebagai Bali. Ia tahu Bali tapi tidak tahu Indonesia. Ironis sekali, bukan?
”Untuk ke perbatasan Italia, kita mesti naik apa?” tanya saya.
”Lho, siapa yang mau ke Italia?” Georgia mengernyit heran.
”Biasalah, orang Indonesia ini punya penyakit akut yang aneh,” seloroh Ramon.
Saya jadi bingung. Padahal saya masih ingat tadi pagi mereka bilang akan mengajak saya pergi ke Italia siang ini. Jarak Italia dari Prancis tidak terlalu jauh, dan kami sekarang masih di Paris.
”Bukannya kita mau melihat fashion show?” Georgia malah balik bertanya pada saya.
”Bukan, bukan! Kita mau ke Eiffel, kan? Bukankah kau belum pernah ke sana, Wil?” Ramon memotong.
Kenapa rasanya saya mirip turis asing begini? Padahal kami bertiga sudah menjadi housemate selama dua tahun. Dan minggu ini adalah minggu terakhir saya menginjakkan kaki saya di Paris.
”Yang benar saja. Mana mungkin saya belum ke Eiffel. Kita sudah ke Eiffel bersama berapa kali, heh? Saya ingin ke Italia, saya ingin ke Milan,” saya mencoba menjelaskan.
”Milan Fashion Week sudah lewat!” Georgia menyumbang suara. ”Kalaupun ada fashion show, pastinya fashion show kecil-kecilan. Aku tidak berminat melihatnya, Wil.”
Apa-apaan Georgia ini? Saya kan mau menghabiskan minggu terakhir saya dengan kesan yang tak bisa dilupakan! Kenapa malah menonton fashion show?
Ramon malah tertawa melihat reaksi saya yang linglung. ”Lebih baik kita pergi naik sepeda keliling Paris, lebih menyenangkan. Atau kita buat pesta, bagaimana?”
Pesta, pesta dan pesta. Saya sudah bosan dengan pesta gaya orang Prancis. Saya juga sudah bosan kena omel induk semang saya yang mengkomplain bahwa tetangga sebelah terganggu oleh kebisingan pesta itu. Sebenarnya yang membuat bising itu suara Ramon! Bayangkan saja dengan suara bass tak bernada, ia menyanyikan lagu Anggun!
”Hei! Lihatcewek itu! Rambutnya unik sekali!” pekik Georgia melihat seorang perempuan dengan rambut yang disasak tinggi lalu diikat. Itu sih bukannya unik, tetapi absurd!
”Tidak penting. Sekarang kita mau ke mana sih?” Ramon akhirnya bersuara, mewakili suara saya. ”Ke Italia? Itu jelas-jelas tidak mungkin. Aku hanya punya uang sedikit.”
Langkah kami terhenti. Yang tadinya ingin ke stasiun, langsung berubah pikiran untuk ke restoran saja. Pupus sudah harapan saya ke Milan. Saya memang sudah lama mengidam-idamkan untuk menginjakkan kaki di sana. Tentu bukan karena fashion show-nya! 
Entah kenapa, di hati saya Paris tidak istimewa lagi. Apa karena saya yang kangen rumah, membuat saya rindu akan jalan berdebu dan panas di Jakarta?
”Melamun saja,” Georgia menegur saya. ”Kau malu jika nanti ditanya teman-temanmu karena belum pernah ke Italia?”
”Bukan. Saya hanya malas teman-teman kampus bertanya pada kita, ’Où est-ce que vous préférez passer vos vacances?[4] nantinya!” jelas saya ketus.
”Benar juga, besok kan kita masih masuk kuliah,” kata Georgia. ”Jawab aja…”
Marcher dans les rues, manger au restaurant, faire du camping, aller au théâtre, visiter des musées, et rester chez des amis.”[5] Ramon memotongnya sambil terkekeh.
”Cih, jawabannya seolah kita sudah melakukan liburan, bukannya hendak liburan,” sembur saya.
Ramon lagi-lagi terkekeh. Dasar makhluk planet!
”Ah, sudahlah. Lebih baik kita ke restoran. Apakah kalian tidak sadar perut sudah keroncongan begini?” Ramon memegang perutnya agar terlihat meyakinkan.
Entendu![6] seru Georgia yang tampaknya sama-sama lapar. Ia memandang ke arah saya yang tampak tidak setuju dan akhirnya bertanya lagi. ”C’est entendu?
Entendu!” seru Ramon nyengir. Saya tetap diam.
”Astaga, dia tidak setuju tuh!” Georgia menunjuk saya. 
Tapi Ramon tampaknya tidak ambil pusing dengan sikap tak bersahabat dari saya. Ia mengamit Georgia layaknya kekasih, kemudian meninggalkan saya. Benar-benar menyebalkan. Saya pun ikut lari bersama mereka yang hendak ke restoran tersebut.
Saya berdecak kagum pada Georgia yang mau saja dibawa lari oleh Ramon. Lihat apa yang ia kenakan. Sepatu berhak tinggi, dan ia tetap stabil berjalan. Saya memang pernah dengar ia terobsesi menjadi model.
Kami akhirnya sampai ke restoran Prancis dan memesan makanan—kalau yang ini hanya mereka, karena saya cuma memesan espresso.
Ajaibnya, ketika saya duduk di kursi restoran tersebut, saya menduduki sebuah dompet yang ketika saya cek adalah milik orang Italia.
Saya lihat namanya. Saverio. Ou ou ou. Tampaknya saya harus mengembalikannya. Dan ini dapat dijadikan alasan kenapa saya harus ke Italia.
Tetapi ketika saya mengatakannya kepada Ramon dan Georgia, mereka hanya mendesah dan menyarankan untuk mengembalikan saja ke pihak berwajib.
Saya memandang dompet milik Saverio. Terbuat dari kulit berwarna hitam. 
Entendu!” seru Ramon tiba-tiba, membuat saya dan Georgia tampak terkejut.
”Setuju untuk apa?” Georgia menyikut Ramon yang sangat aktif itu.
Ramon terdiam, menunjuk-nunjuk saya. Saya jadi bingung sendiri. Berbicara sepatah kata pun tidak, tetapi sekonyong-konyong Ramon bilang setuju dengan saya. Otaknya memang kurang waras!
”Italia. Saverio,” ujar Ramon dengan cengiran lebarnya.
Saya menjadi semringah mendengar persetujuan Ramon. 
Georgia tampak kesal. ”Ke Italia naik apa? Harus naik pesawat, kan? Malas ah,” ujarnya cuek.
We can go without you, lady!” seru Ramon.
Lagi-lagi saya semringah mendengar jawaban Ramon. Ini amat sangat menyenangkan. Panorama Milan pun menari-nari di benak saya.
Georgia yang satu-satunya perempuan di antara kami, memasang wajah ngambek. Dan dengan secepat kilat dia menyeringai. ”Lebih baik aku pulang! Kalian memang para pria menyebalkan!”
Saya sangat senang dengan tawaran Ramon. Saya pun tidak peduli dengan ejekan Georgia. 
Let’s go!” Ramon menepuk pundak saya.
”Eh?” Saya heran. Apa maksud dari ajakannya itu? Apa Ramon bermaksud ke Italia sekarang juga? ”Sekarang?”
”Kapan lagi? Ayo, lekas,” tukas Ramon. ”Saverio itu kenalanku. Nanti akan kukenalkan denganmu. Lagi pula, dia bisa berbahasa Indonesia karena istrinya orang Indonesia. Saat aku mengunjungi mereka, mereka bilang suka dengan rendang. Sekalian ingin tahu bagaimana rasa rendang. Di Bali aku tidak pernah makan rendang.”
Whatever he talked. Yang saya perlukan hanya pergi ke Milan.
Ramon merangkul saya untuk segera main ke rumah Saverio. Tampaknya saya lebih tertarik dengan Milan daripada kota ini. Dulu, saya sangat ingin sekali ke Paris. Ternyata hanya begini saja. Awalnya memang menyenangkan, tetapi kian lama saya bosan dengan pemandangan yang itu-itu saja. Saya maunya bertualang! Ke tempat yang belum pernah saya kunjungi dan itu adalah Milan.
”Kau lupa dengan paspor?! Saya tidak membawa punya paspor!” seru saya panik.
Ramon nyengir lebar sekali. Ia menepuk pundak saya. ”Tenang saja, hal itu percayakan saja kepadaku! C’est entendu?
Entendu!” seru saya riang. Untunglah housemate saya adalah Ramon. Ia memang penuh dengan kejutan.
”Omong-omong, kita harus pergi ke tempat temanku dulu. Kita harus ke sana, Wil,” ucap Ramon.
Saya hanya mengangguk setuju. 
Kami pun sampai di apertemen dengan dominasi warna cokelat yang kental. Apertemen itu tampak mewah. 
Ramon menuntun saya naik lift, kemudian sampai di depan sebuah kamar. Pria itu mengetuk pintu dua kali. Dan langsung direspons dengan cepat. Teman Ramon itu membuka pintu, dan saya dapat melongok ke dalam kamar apartemen tersebut. Desain interiornya benar-benar menakjubkan.
Come in, Ramon,” ujar pria itu, teman Ramon. Ia sangat tinggi dan tampaknya ia orang Eropa. Pria itu tampaknya juga orang Prancis karena saya mendengar pengucapan bahasa Inggris dengan sengau—khas Prancis sekali. ”And you’re too.”
Saya mengangguk, ikut masuk.
Pria itu menyuruh saya dan Ramon agar tidak sungkan duduk dan menikmati sampanye miliknya. Rasanya tidak cocok minum alkohol di musim panas begini.
Get off your clothes,” kata pria ini.
Saya bergidik heran sekaligus waswas. Kata-kata yang kurang masuk akal itu…
Saya mencoba melirik Ramon yang tampaknya enteng sekali membuka semua bajunya, diikuti kaus dalam dan celana dalamnya. Dengan tatapan nanar saya menatap dua orang di hadapan saya.
C’est à moi.[7] Setelah ini, giliranmu, Wil.” Ramon menatap saya penuh arti. Ia langsung memeluk pria yang namanya tidak saya tahu itu.
Saya menelan ludah, bergidik ngeri.
Pikiran-pikiran negatif hadir di benak saya sejak melihat pemandangan ajaib di hadapan saya: dua pria saling berciuman, saling bersentuhan... Sungguh menjijikkan…
Saya pun langsung ambil tindakan. Saya berlari ke luar dan mencoba membuka pintu. Tetapi ternyata sudah dikunci oleh Ramon. Saya memandang ke arah dua orang itu, dan mereka tertawa tertahan. Ramon pun maju ke hadapan saya.
”Tak perlu terkejut, Wil. Aku sudah lama menanti saat ini, menanti kau akan jatuh di pelukanku. Bukan di pelukan Georgia. Aku terus memperhatikanmu tiap kau tidur di kamar. Sungguh menggairahkan.” Ramon tersenyum.
Ia menahan tangan saya, sedangkan orang yang bernama Saverio itu melucuti baju saya satu per satu.
Saya menelan ludah—lagi.
Gila!
Ramon memang penuh kejutan, tetapi bukan kejutan yang seperti ini yang saya mau!
Padahal saya dan Ramon sudah berteman selama…
Ah, ternyata waktu segitu tidak membuktikan kau tahu tentang orang itu. Hell, saya lebih cinta Indonesia! Saya tidak mau di sini! Saya tidak mau di Prancis! Saya tidak mau ke Italia!
Saya ingin bertolak ke Indonesia!!!
* * *
…Built a wall around my heart, I’ll never let it fall apart. But strangely I wish secretly, it would fall down while I’m asleep…
Lagu Nothing Lasts Forever milik Maroon 5 mengalun samar, membuat saya terjaga dari tidur saya.
Sekonyong-konyong saya ingat peristiwa itu. Peristiwa konyol yang mana saya telah—diperkosa?—oleh dua warga Prancis dan Italia itu…
”Kak Wil, ayo sarapan! Jangan ngayal melulu pergi ke Eropa! Belajar yang bener, baru pergi ke Italia!” seru suara khas yang sangat saya kenal itu—Keshia.
Saya pun mengucek-ucek mata saya.
Oh, syukurlah! Ternyata hanya mimpi! Saya masih di rumah, masih memegang buku Lonely Planet negara Prancis dan Italia. Olalala… kadang mimpi memang terasa nyata!
Saya pun bersyukur karena ini semua tidak terjadi. Saya pun langsung beranjak turun ke bawah rumah untuk sarapan bareng keluarga saya. Mungkin saya bermimpi karena membaca buku yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah itu. 
Tapi sebelum itu, saya merasa risi dengan benda yang terselip di buku Lonely Planet Italia. Saya pun mengambil benda tersebut.
Sebuah dompet yang saya kenal.
Saya pun membuka dompet itu dan melihat kartu pengenal.
Namanya Saverio, dan terdapat sebuah tulisan tangan yang berbunyi: ”C’est entendu?

[1] Saya berasal dari Indonesia.
[2] Oh, Anda berasal dari tempat yang jauh! Mahasiswa?
[3] Mereka tinggal di dekat sini.
[4] Ke mana kalian akan melewati liburan?
[5] Jalan-jalan, makan di restoran, berkemah, nonton teater, mengunjungi museum, dan istirahat di rumah teman.
[6] Setuju!
[7] Ini giliranku.

Last Lullaby - Bab 6





KECEPATAN lari Izar lima menit per kilometer, dan ia mencoba stabil. Sesekali Izar melirik sportwatch-nya, dan selama sembilan kilometer ia berhasil. Satu kilometer lagi. Meskipun sebenarnya lelaki itu bisa lebih cepat—karena rekornya berada di average pace 4.10 menit per kilometer dalam jarak sepuluh kilometer.
Sepuluh kilometer, artinya dua kali keliling kampus. Izar merasakan sensasi yang menyenangkan saat berlari di kampusnya, terutama desau angin yang dapat ia tangkap lewat telinganya. Semakin ia mempercepat pace-nya, maka suara angin akan lebih kencang. Sensasi itu yang selalu Izar tunggu.
Sensasi yang selalu Izar usahakan untuk hadir meskipun kakinya mulai kram, napasnya mulai terengah-engah, jantungnya seakan ingin meledak, dan rasa mual yang mulai hadir. Sama seperti saat ia dan papanya berlari saat kecil.
Saat papanya mengajak Izar untuk berlari sprint tiga ratus meter. Papanya berkata ia harus berlari sekencang mungkin, menghadirkan angin yang begitu kencang menerpa. Dan angin selalu mengingatkannya kepada Papa. Bayangan Papa selalu membuatnya merasa bersalah.
Dan Izar hanya bisa menghukum dirinya sendiri 
Saat melewati Fakultas Ekonomi, perhatian Izar buyar karena melihat Kirby sedang duduk di halte bus kuning. Sebenarnya, kebetulan itu yang Izar tunggu di awal ia memutuskan untuk berlari sepuluh kilometer di kampusnya.
Déjà vu.
Bedanya, kali ini Izar sedang berlari.
Dan Kirby sedang tidak muntah.
Sadar akan keberadaan Izar, Kirby tersenyum dan melambai-lambai ke arah Izar.
Izar mem-pause sportwatch-nya, lalu berlari kecil menuju Kirby.
“Lo rutin lari begini?” tanya Kirby tanpa basa-basi.
Yes. Lo abis ngapain?” Izar memperhatikan map pink yang Kirby bawa.
“Biasalah, skripsi. Masih harus revisi bab empat.”
“Oh, ternyata lo semester akhir.”
“Lo sendiri?”
“Sama, tapi sayangnya gue kalah cepet sama lo. Gue baru nunggu jadwal sidang proposal. Eh, lo lagi nunggu Erick jemput?”
Kirby balas memperhatikan Izar sebelum menjawab. Lelaki itu tidak tampak kelelahan meskipun wajah dan tubuhnya dipenuhi peluh. “Nunggu bus kuning.”
“Buru-buru, By?” tanya Izar.
“Nggak juga. Kenapa? Mau ngajak gue jalan? Tapi lo sendiri bukannya masih pengin lari lagi?” todong Kirby to the point.
Izar terkekeh. “Udah nyaris keliling kampus dua kali kok.”
“Dua kali?” Kirby tampak takjub. “Maksud lo nyaris itu… lo belum selesai?”
Izar tersenyum geli. “Bukan jarak yang perlu dibanggain, itu biasa banget kalau buat yang suka lari begini. Eh, emangnya kenapa kalau belum selesai?”
“Kalau udah selesai, gue mau tunggu lo. Kayaknya obrolan kemarin masih kurang. We have to make it longer.”

* * *

Izar memilih kedai kopi di Jalan Margonda. Meski demikian, ia memesan bubur kacang dan cokelat dingin. Sementara Kirby hanya memesan teh camommile. Rasanya aneh berada di kedai kopi, tapi sama sekali tidak memesan kopi.
“Jujur ya, gue tertarik sama lo.”
Izar terperanjat saat Kirby mengatakan itu. Nyaris saja buburnya tersembur.
Kirby tertawa. “Nggak heran lo shock begitu. Ditodong perkataan demikian sama cewek pasti rasanya aneh. Tapi serius, gue tertarik sama lo.”
Setelah menelan bubur kacang, Izar berdeham, berusaha rileks. Ia memandang Kirby lekat-lekat, cukup terkejut Kirby tidak suka basa-basi. “Kenapa lo tertarik sama gue?”
“Gue kan udah bilang, lo itu familier. Tapi gue nggak pernah bisa tahu kenapa bisa ngerasa seperti itu,” Kirby berkata sambil memain-mainkan sedotan.
“Nggak aneh kok. Gue juga tertarik sama lo.”
Does it mean you like me?” todong Kirby. “Tapi gue sekadar tertarik, nggak tahu apakah gue naksir sama lo atau gimana.”
“Gila ya, baru kali ini gue ketemu cewek yang tingkat ge-ernya tinggi banget.” Izar tertawa geli, membuat Kirby sedikit salah tingkah. “Gue tertarik sama lo juga karena alasan itu. Ya… sekadar tertarik karena lo rasanya familier. Entah memang karena kita pernah punya keterkaitan di dunia lain atau karena sesuatu, yang jelas gue tertarik sama lo.”
“Masih aja ngebahas dunia lain? You kid me, Izar,” ujar Kirby.
Who knows?” Izar menyeringai.
Kirby meneguk teh cammomile yang terasa pahit, kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu menawarkannya kepada Izar. “Mau?”
Izar menggeleng. “Gue nggak ngerokok.”
Kirby memantik api dari korek berbentuk biola, lalu menyulut rokok yang sudah berada di antara telunjuk dan jari tengahnya. Perempuan itu mengisap rokok, lalu mengembuskan asap rokok dari mulutnya. “Kalau gue ngerokok begini, lo masih tertarik?”
“Memangnya kenapa gue bisa nggak tertarik kalau lo ngerokok?”
Kirby tersenyum mendengar respons spontan Izar. “Biasanya cewek yang ngerokok punya image negatif. Apalagi lo kelihatannya sehat banget, suka lari.”
“Gue bukan tipe yang dengan gampang nge-judge kok.” Izar tersenyum.
“Dan lo bukan tipe cowok yang terganggu dengan asap rokok?” tanya Kirby.
“Kalau terganggu… jujur aja gue terganggu. Tapi sekarang kan kita emang lagi di ruangan khusus buat ngerokok. Masa gue protes? Dari awal gue juga tahu kenapa lo lebih memilih ruangan ini ketimbang di luar,” jelas Izar sambil memperhatikan korek gas berbentuk biola milik Kirby.
“Kenapa? Lo suka korek ini?” tanya Kirby sambil mengangkat korek gas miliknya. “Atau lo tertarik untuk ngerokok?”
“Jangan jerumuskan gue untuk ikut ngerokok. Nanti gue bisa nggak lari secepat biasanya,” ujar Izar, mencandai Kirby.
Kirby tertawa.
Tapi tidak lama.

Sampai perempuan itu melihat sosok yang ingin sekali ia hindari. []

Friday, January 01, 2016

Last Lullaby - Bab 5




IZAR membasuh wajahnya di wastafel begitu pulang dari pesta ulang tahun Kirby. Usai menggosok wajahnya dengan lembut, membilas wajahnya yang tadi penuh dengan busa sabun muka, lelaki itu mengeringkan wajahnya dengan handuk yang tersampir di dekat wastafel, kemudian menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
“Wajah lo, rasanya familier. Tatapan lo juga nggak asing. Lo pernah ke Jepang beberapa tahun lalu, Zar?”
Pertanyaan Kirby itu masih berdengung di telinganya.
Aneh, batin Izar. Dia sendiri merasa pernah bertemu dengan Kirby. Dia begitu terbiasa dengan gestur ringkih perempuan itu. Suara Kirby yang terdengar gentar pun rasanya familier.
Tapi dia sama sekali tidak bisa menemukan kepingan kenangan soal Kirby di ingatannya.
Dan… Jepang?
Izar memang pernah ke Jepang. Tapi rasanya dia tidak pernah bertemu Kirby di sana. Dia ke Jepang dalam rangka mengikuti Japan University English Model United Nation di Osaka saat semester tiga bersama teman satu timnya, mewakili fakultas dan kampusnya. Saat itu dia terlalu sibuk memikirkan paper dengan topik pendidikan yang mana dia mendapat negara Kenya, juga meyakinkan dirinya untuk bisa berdebat dengan delegasi yang berasal dari Turki yang selalu mengkritik ide-ide program pemerintah yang selayaknya disusun oleh pemerintah Kenya.
Lagi pula, jika dia bermain di Osaka, teman-temannya selalu menemani. Bahkan saat social night, rasanya lelaki itu tidak mabuk sehingga membawa perempuan ke kamar hotelnya.
Izar berusaha mengenyahkan pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Dia yakin punya keterkaitan dengan Kirby. Tapi… apa? Bukankah mereka baru saja bertemu kemarin sore?
“Pernah, tapi kita nggak ketemu di sana,” jawab Izar saat itu.
Kirby hanya merespons ucapan Izar dengan anggukan pelan, lalu berkata, “Gue juga nggak yakin ketemu lo. Mungkin ini terdengar aneh, tapi jujur, kayaknya gue udah kenal lo lama.”
Izar bergeming, tidak tahu harus merespons apa karena ucapan Kirby sama persis dengan apa yang dirasakannya. “Mungkin kita pernah bertemu di kehidupan lain?”
Geez, Izar. Gue nggak percaya dengan hal semacam itu.”
Izar terkekeh. “Gue juga nggak percaya. Tapi karena nggak tahu apa alasan kenapa kita rasanya sudah mengenal lama, hanya itu yang ada di otak gue.”
Kirby ikut terkekeh, lalu tatapannya beralih kepada Nuri yang sedang berada di stand minuman, tampak hendak mengambil lemon squash. “By the way, kayaknya Nuri sayang banget sama lo.”
“Sudah seharusnya,” jawab Izar. “Lo sendiri gimana dengan Erick?” tanya Izar, pandangannya ikut mengekor ke arah Erick yang sedang berbicara dengan dua perempuan. “Dia kayaknya udah terbiasa jadi center of the show, ya? Tipikal Kamajaya.”
Kirby mengangguk setuju. “Yeah, tipikal Kamajaya.”
“Jadi?”
Kirby mengernyit bingung.
“Jadi, lo gimana dengan Erick?”
“Kalau lo ngira kami ini pasangan, lo salah. Dia bodyguard gue.”
Kali ini giliran Izar yang mengernyit tak mengerti.
“Izar!”
Izar tersentak kaget, lamunannya pecah. Di hadapannya, Nuri dengan kaus abu-abu kucel dan celana pendek tampak jengkel.
“Ngelamunin Kirby ya?” tanya Nuri.
Izar menutup keran wastafel yang belum sempat ditutupnya, lalu meraih puncak kepala Nuri dan mengacak-acaknya. “Kenapa bisa berpikiran kayak begitu?”
“Karena kamu akrab banget sama dia, sampai ketawa bareng segala. Aku nggak nyangka kamu punya bakat menarik perhatian. Aku kira kamu itu cowok introver pemalu,” tukas Nuri, lalu duduk di kursi sebelah nakas.
“Lo ngomel terus deh dari tadi. Kenapa sih? PMS?” tanya Izar.
“Perempuan itu marah-marah bukan cuma karena lagi PMS, kiddo,” perempuan dengan rambut dikucir yang masih mengenakan pakaian kantor berkata sambil meletakkan high heels di lemari sepatu. “Terkadang perempuan itu marah-marah karena cemburu.”
Izar dan Nuri menoleh.
“Jadi cowok itu harus peka, ya nggak, Ri?” Perempuan itu, Aisyah, mengerling kepada Nuri.
“Nuri jealouse apanya sih, Kak? Dia abis kepincut cowok di pesta ultah tadi,” kata Izar sambil tertawa, berusaha bercanda.
Aisyah hanya menggeleng gemas karena adiknya tidak pernah sadar ada sesuatu yang diinginkan Nuri pada diri Izar. “Capek ngomong sama bocah. Udah ah, aku ke atas dulu. Capek. Mau tidur.”
Setelah kakaknya menghilang, dia melirik Nuri yang masih tampak jengkel.
“Omongan kakak gue nggak benar kan, Ri?” tanya Izar seraya berjalan menuju meja makan dan meraih gelas kosong. “Lo kenapa kelihatan kesal begitu sih?”
Nuri bergeming. Sebenarnya apa alasan dia datang dan tampak kesal lalu ingin menemui Izar? Apa perkataan Aisyah benar? Ia cemburu dengan keakraban yang terjadi antara Izar dan Kirby?
“Lain kali kalau ke pesta bareng seseorang, temenin orang itu. Jangan dikacangin.”
Izar yang sedang mengucurkan air dari dispenser ke gelas, mengernyit bingung. “Gue kan dari awal pesta tadi selalu bareng lo, Ri. Kapan gue cuekin lo?”
Nuri menggeleng, membuat Izar benar-benar bingung. Tak lama kemudian, perempuan itu bergegas pergi keluar dari rumah Izar. Dan tentu saja membuat Izar kebingungan. []

Another Apostrophe - Bab 1



WAJAH Kanta tampak berpendar dengan senyum ramah. Pria itu mengenakan setelan formal yang cocok dengan tubuhnya yang ramping. Sesekali ia mengecek ponsel, entah apa yang ia tunggu dari gawai tersebut.
Dan Virya mencoba tak peduli dengan apa yang terjadi dengan Kanta. Wanita itu berjalan menuju gerai marshmallow, melewati para tamu undangan yang sedang mencicipi makanan atau sedang bercengkrama, kemudian mencari tempat di mana dia bisa bersembunyi. Virya harus menjauhi pria itu. Kali ini dia takkan kembali terjerembap oleh pesona Kanta.
“Virya?”
Setelah lama tidak bertemu dengan Kanta, Virya mengira dia bisa tidak mengacuhkan pria itu. Tapi nyatanya dia berhenti melangkah saat pria itu memanggilnya.
Saat berbalik, dia mendapati sepasang manik mata memandangnya lekat-lekat. Entah sihir apa yang Kanta lakukan sehingga Virya bergeming.
“Ternyata memang benar kau!” Mata Kanta berbinar jenaka.
Virya tersenyum kaku. Lidahnya kebas dan kakinya sulit bergerak.
“Apa kabar, Vir? Sudah berapa lama kita tidak bertemu?” tanya Kanta, tampak semringah dengan kebetulan yang terjadi.
“Baik,” sahut Virya, lalu mengedikkan bahu. “Maaf, aku… aku harus ke toilet.”
Virya tahu yang dia lakukan adalah respons bodoh, tapi hanya dengan itu dia bisa menjauhi Kanta. Apa lagi yang bisa dia lakukan saat ini? Menatap Kanta saja merupakan kesalahan, apalagi jika Virya meresponsnya lebih jauh?
Sampai di toilet Virya menuju wastafel, menatap cermin. Seseorang menatapnya balik. Wanita berwajah standar dengan pulasan makeup natural dengan gaun peach tanpa aksen. Bayangan dirinya—yang tak menarik. Dan bukankah aneh pria memesona seperti Kanta menegurnya, lalu menawarkan obrolan ringan seperti tadi?
Virya mencoba berasumsi bahwa pria itu hanya berusaha ramah kepadanya.
Dan seharusnya Virya juga bisa bersikap ramah kepada pria itu.
Oh, tidak. Virya takkan naif seperti itu. Sebaiknya dia segera pulang. Lagi pula, dia sudah bertemu dua mempelai yang berbahagia tadi, menyetor muka bahwa dia memenuhi undangan.
Dengan susah payah Virya berjalan cepat meski kakinya beralaskan sepatu berhak tinggi. Dia berharap probabilitas Kanta melihat dan menyapanya lagi nol. Wanita itu melewati lorong dengan ratusan mawar berwarna pastel—merah muda, putih, dan biru muda—yang menjadi dekorasi. Tidak sulit melewati beberapa tamu berpakaian formal yang tampak semringah. Setelah melewati lorong tersebut, Virya dihadapi dengan kuda rekaan beserta keretanya yang biasa dia lihat dalam animasi dongeng yang terbuat dari mawar putih. Begitu cantik. Tadinya Virya berniat mengabadikan benda itu lewat kamera ponsel, tapi rasanya hal itu tak dapat dia lakukan mengingat Kanta berada di tempat yang sama dengannya.
Belum sempat Virya keluar, seseorang mencengkeram pergelangan tangannya.
“Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Dan dalam rentang waktu itu tampaknya kau selalu menghindariku.”
Virya tercekat, dan hanya bisa bergumam pelan, “Kantata…”

* * *

Kanta adalah pria dengan jutaan pesona.
Jika banyak orang menganggapnya tampan, Virya takkan menyangkal. Jika banyak perempuan terobsesi kepadanya, Virya tak heran. Tapi bagi Virya, ia memesona bukan karena ketampanannya.
Virya menyadari bahwa adiksi terhadap keindahan itu manusiawi. Seperti para perempuan yang mengidolakan Kanta karena wajah dan tubuhnya. Dulu, Virya membenci apa pun mengenai pesona fisik Kanta. Ia bak tokoh sempurna dalam fiksi. Wajah Kanta menunjukkan ia keturunan Jawa tulen, yang anehnya terkesan lembut sekaligus maskulin. Tubuh mesomoprh Kanta selalu tampak liat. Kesempurnaan itu membuat Virya muak karena dia tahu perempuan sepertinya takkan mungkin bisa merekatkan jarak pada pria seperti Kanta.
Dan sekarang pria itu berada di hadapannya, menatapnya lekat-lekat, dan menunggunya bersuara.
“Sudah berapa tahun, Vir?” Ternyata Kanta yang bersuara lebih dulu, memecah keheningan sejak mereka berdua duduk di kedai kopi dekat gedung pernikahan tadi.
Virya menengadah, menatap Kanta takut-takut.
Di luar ekspektasi Virya, Kanta tersenyum dan mengulang pertanyaannya. “Sudah berapa lama sejak terakhir kita bertemu?”
Virya menjawab pelan, “Sekitar lima tahun.”
“Dan selama itu aku tak pernah tahu kabarmu,” kata Kanta tenang. “Padahal selama kuliah…”
“Waktu bisa mengubah segalanya,” potong Virya, memberanikan diri bersuara dan memaksakan sebuah senyum. “Dan kukira frekuensi pertemuan kita pun mengubah hal itu.”
Kanta mengetuk-ngetukkan jemarinya ke meja, tanda bahwa ia tak percaya apa yang Virya katakan. Dan Virya menatap jemari pria itu. Jemarinya lentik seperti dulu. Dan saat itulah Virya baru menyadari cincin di jari manis pria itu.
Apakah Kanta sudah menikah?
Menyadari kemungkinan itu membuat hati Virya mencelus. Lima tahun Virya berusaha menguatkan hati, ternyata hanya butuh sekian detik untuk melemahkannya.
“Tidak selamanya waktu mengubah segalanya. Aku yakin kau tetap Virya yang aku kenal. Hanya saja… mungkin aku belum sepenuhnya mengenalmu. Aku belum mengenalmu pada sisi yang kutemui sekarang.” Setelah mengatakan itu, Kanta menyesap teh earl grey yang sejak tadi didiamkan.
Virya menunduk. Mungkin Kanta benar. Mungkin waktu tak mengubahnya. Mungkin Virya yang tak pernah mengenal dirinya sendiri sampai-sampai dia harus memilih jalan hidupnya saat itu.
Tiba-tiba Kanta tertawa, lalu mencubit pipi kiri Virya. “Maaf, aku sudah menggiringmu pada topik yang terlalu serius. Aku paling jengkel kalau melihatmu tampak berpikir keras seperti itu. Jadi,” Kanta mendekatkan gelas berisi cokelat dingin kepada Virya, “lebih baik segera habiskan minumanmu dan mulai berceloteh apa saja yang sudah kaulakukan selama ini.”
Virya nyaris melongo. Kanta bukan saja mengubah topik pembicaraan, ia juga mengubah ekspresi wajahnya. Ternyata ia masih menjadi pria seperti itu.
Buru-buru Virya menyesap cokelat dingin. Dia sengaja lama-lama meminumnya karena butuh waktu berpikir. Apa yang harus Virya katakan setelah ini? Tentu saja dia tak mungkin menceritakan apa yang telah dia alami lima tahun belakangan.
“Dan aku yakin kau masih Virya yang tak pernah bisa mengawali cerita,” kata Kanta sambil terkekeh setelah Virya menyesap habis cokelat dingin. “Jadi, lebih baik aku bertanya kepadamu.”
“Kurasa aku belum menyetujui rencanamu,” bantah Virya, lalu melirik arloji di tangan kirinya. “Aku harus pulang. Aku dikejar tenggat waktu.”
“Aku hanya butuh sepuluh menit. Selanjutnya, kau bisa pulang. Aku takkan melarangmu,” kata Kanta tegas.
Tidak ada kata tidak untuk Kanta. Virya paham itu. Jadi dia mengangguk setuju. “Baiklah. Pukul sembilan lebih dua puluh menit aku harus pulang.” []